Dasar – dasar keuangan orang tua
lahirnya seorang anak sholeh dan sholehah bukan tiba – tiba saja muncul tapi perlu ada pendidikan dan penanaman sejak usia dini. Ibaratnya tumbuhan, seorang anak perlu dirawat dan di jaga dengan baik. Semakin baik perawatan kita tentu akan semakin baik pula hasilnya. Salah satu yang seharus ditanamkan oeh para orang tua, sebagai bentuk penjagaan adalah bekal – beka al-qur’an.
Anak merupakan titipan dari Allah. Dalam konsep islam, anak dilahirkan bersih putih akan berwarna apa nantinya bergantung proses pendidikan dari keluarga terutama orang tua. Anak merupakan amanah yang sangat signifikan bagi para orang tua dan keluarga, anak bisa menjadi penyeimbang, pendukung dan fasilitator orang tua menuju ketaqwaan kepada Allah SWT ataupun sebaliknya.
4 hal yang menjadi pegangan orang tua dalam mengkondisikan anak agar dapat membantu orang tua menuju ketaqwaan, yaitu :
- Mendidik anak untuk ibadah kepada dan karena Allah SWT
- Menghidupi mereka dengan rizki yang halal
- Mendidik mereka cinta dan kasih sayang sesuai dengan syariat islam
- Menjadikan orang tua sebagai teladan bagi anak – anak
Ke-4 hal tersebut merupakan bentuk perlindungan keluarga atau orang tua kepada anak agar mereka bisa mengarungi hidup yang penuh dengan ranjau – ranjau kehidupan. Bukankah ketaqwaan identik dengan kehati – hatian?
Hubungan ke-4 hal di atas dengan keuangan orang tua adalah :
1. Mendidik anak gemar bersedekah
Pendidikan untuk mendermakan sabagian harta harus dimulai dari usia dini dengan menyesuaikan kondisi perkembangan dan umur anak
Contohnya : bila anak masih belum mengenal fungsi uang maka kita bisa memberi uang kepada anak untuk disedekahkan, dan bila mereka sudah mengerti fungsi uang maka kita harus menganjurkannya untuk menyisihkan sebagian dari uang sakunya untuk bersedekah.
2. Mengelolah keuangan anak
Kadang orang tua memenuhi apapun keinginan anak yang penting anak tidak rewel atau melawan, tanpa sedikitpun upaya untuk mengerem. Hal ini bisa mengakibatkan munculnya budaya konsumtivisme. Kebiasaan ini diperparah sebuah fenomena bahwa anak merupakan objek konsumerisme, baik yang berasal dari media cetak dan elektronik maupun dari objek “wisata” seperti toko dan mall. Orang tua bisa memberikan anggaran jajan pada anak disesuaikan usia dan perkembangan anak, bahkan untuk anak yang sudah mulai mengerti tentang fungsi uang bisa kita ajari cara mengelola uang jajan yang di berikan secara periodik. Tentunya, dengan pertanggungjawaban pemakaiannya.
3. Peka terhadap lingkungan
Lngkungan di bagi 2 yaitu internal dan eksternal. Untuk internal ada dilingkungan keluarga atau rumah, seperti telah disinggung sebelumnya bahwa anak merupakan objek konsumtivisme maka fasilitas yang dapat mempengaruhi anak harus lebih sering di pantau, beri penjelasan dan dampingi mereka dalam menggunakan dengan fasilitas tersebut misalnya penggunaan telephone seluler. Sedangkan lingkungan eksternal bisa berkaitan dengan lingkungan tempat tinggal atau lingkungan sekolah, orang tua harus peka daam memilih karena dapat berdampak pada tumbuh kembang anak.
4. Menyisihkan pendapatan untuk pendidikan dan kesehatan
Kedua hal tersebut perlu dialokasikan agar pada saat dibutuhkan minimal sebagian bisa disediakan. Banyak lembaga – lembaga keuangan yang menyediakan produk tersebut tergantung kita memilih yang penting pilihan kita harus berlandaskan konsep syariah.
5. Memberi teladan
Jangan pernah menuntut anak ini dan itu apabila orang tua sendiri tidak pernah melakukannya. Orang tua dituntut untuk bisa menjelaskan tentang haram dan halal dalam proses pendapatan dan membelanjakan harta agar anak bisa memilah dan memilih mana yang baik dan buruk, hal tersebut kurang maksimal tanpa contoh dari orang tua. Bukankah anak lebih mudah meniruh perbuatan orang dewasa? jangan sampai ucapan kita bertolak belakang dengan perilaku kita, apalagi bila hal itu sampai di contoh anak.
Sumber Majalah Al Falah




pada Oktober 2, 2011 pada 6:56 am
Memang benar seorang anak adalah ibarat kertas kosong yang putih bersih tiada bernoda,tergangtung dari kita mau jadi apa warna putih tersebut akan berubah,pendidikan anak yang sholeh & shalehah bisa juga di terapkan semasa dalam kandungan seorang ibu selama 9 bulan lebih,jika dalam masa dalam kandungan tersebut seorang ibu memberikan contoh yang baik seperti membiasakan membaca al-qur’an,mengajak ketempat2 pengajian/majlis taklim,mengajak bicara dengan tutur kata yang lembut dan santun insyaallah bisa menjadi bekal sejak dini buat anak2 kita kelak setelah di lahirkan. Insyaallah artikel ini bisa jadi tambahan ilmu buat kita untuk terus dan terus belajar jadi orang tua yang bijaksana amiin